Cinta bersemi di Pertashop (Part 1)

 


Andi sedang asyik bermain tiktok di teras rumah. Tiba-tiba Pak Bangun bapaknya Andi memanggil. "Andi, tolong kamu beli bensin Pertamax di Pertashop". Kebetulan keluarga Andi memang buka warung di depan rumah dan salahsatu dagangannya yang paling laris yaitu bensin eceran. Desa Andi memang termasuk di pelosok. "Ya Pak, tapi belinya dimana, ke kota Kecamatan kan jauh, padahal ini kelihatannya mendung sekali, sebentar lagi sepertinya akan hujan lebat" jawab Andi. Maklum, di daerah Andi, yang ada SPBU baru di kota kecamatan. "Kebetulan Bapak kemarin melihat ada Pertashop baru di jalan raya di desa sebelah. Cobalah kamu kesana, letaknya dekat Toko Tani, kamu tahu kan, persis didepannya" saran pak Bangun. "Baik Pak, saya tahu tempatnya, saya akan segera kesana" jawab Andi seraya bergegas menaiki Honda Vario kesayangannya. Andi memang termasuk anak yang rajin. tidak heran jika orangtuanya sangat menyayanginya. Namun ada yang membuat Andi galau. Orangtuanya meminta ia segera menikah karena sudah ingin sekali menimang cucu. Maklum Andi adalah anak tunggal.

Tidak berapa lama kemudian sampailah ia di Pertashop. Disitu ia melihat seorang gadis abg dengan seragam pertashop. "Berapa liter mas?" tanya gadis itu dengan ramah. "dipenuhin aja mbak jerigennya" jawab Andi. "Baik Kak, dimulai dari angka nol ya" kata mbak pertashopnya dengan ramah. Ketika baru mengisi bensin ke jerigen tiba-tiba hujan lebat datang tiba-tiba. Sontak mbaknya kehujanan. Andi dengan sigap mengambil kardus untuk menutupi mbaknya biar tidak kehujanan. Andi diam-diam memperhatikan mbak pertashopnya. Ternyata wajahnya cantik sekali. Polos tanpa makeup. "Sudah mas, terimakasih ya sudah dibantuin" kata mbaknya. "Oh, sudah ya, berapa mbak?" Tanya Andi. "200 ribu" jawab mbaknya. Andi segera membayar dengan 2 lembar uang seratusan ribu. "Terimakasih kak" kata mbaknya ramah.

Karena hujan masih deras Andi berinisiatif untuk berteduh di pertashop. "Mbak, saya boleh ijin berteduh disini tidak, karena hujan masih deras?" tanya Andi. "Oh, boleh mas, silahkan mas berteduh di situ" jawab mbak pertashopnya ramah seraya menunjuk ke satu bangunan kecil yang ada terasnya buat berteduh. Andi segera berteduh dan duduk disebuah kursi panjang. Setelah melayani pembeli yang lain tidak berapa lama mbak pertashopnya juga berteduh. Ia duduk di kursi panjang di samping Andi.

Andi berulangkali mencuri pandang. "Hmm, mbaknya cantik sekali" batin Andi. Mbaknya sepertinya sadar kalau Andi berulangkali memperhatikannya namun ia diam saja. "Mbak boleh kenalan tidak?" tanya Andi memberanikan diri. "Boleh, namaku Ana" jawab mbaknya. Oh, namamu Ana ya, kenalkan aku Andi orang kampung sebelah" Andi memperkenalkan diri. "Ngomong-ngomong kamu asalnya dari mana, saya kok baru lihat?" tanya Andi lagi penasaran. "Kebetulan saya baru datang dari Jogja, saya merantau kesini karena diajak kakak saya. Kebetulan bosnya membuka usaha pertashop disini dan saya ditawari untuk bekerja disini" jawab Ana panjang lebar. "Oh begitu ceritannya" respon Andi.

"Kamu sekarang tinggal dimana kalau boleh tahu?' tanya Andi penasaran. "Saya sementara tinggal bersama kakak saya, kebetulan kakak kontrak rumah disekitar sini, tapi ..." Ana tidak melanjutkan ceritanya. "Tapi kenapa?" tanya Andi penasaran. Sepertinya Andi ingin sekali mengetahui seluk beluk tentang Ana. "Tidak apa-apa mas" jawab Ana sepertinya ragu karena masih baru mengenal Andi. "Cobalah cerita, mungkin Kak Andi bisa bantu"  kata Andi sedikit merayu. "Saya sebenarnya ingin tinggal di kosan sendiri, tidak enak numpang di tempat kakak, soalnya tempatnya sempit dan ia sudah berkeluarga. "Oh begitu ceritanya, kenapa kamu tidak kos ditempat aku saja, kebetulan Bapak punya kos-kosan, tarifnya murah kok" kata Andi. "Oh, begitu ya kak, kebetulan sekali, tapi saya takut nggak mampu bayar kos, soalnya penghasilan saya cuma sedikit" kata Ana. "Udah, itu jangan terlalu dipikirkan, dilihat saja dulu tempatnya, masalah uang sewa, nanti saya bantu bicara sama bapak" kata Andi bersemangat. "Terimakasih ya Kak, kakak sudah mau bantu saya dan peduli dengan saya" kata Ana terharu. " Santai saja dik Ana, jangan terlalu dipikirkan, aku ikhlas kok bantu kamu" jawab Andi. Dalam hati Andi sangat gembira sekali, ia sangat berharap Ana mau kos ditempatnya.

Bersambung

Posting Komentar

0 Komentar