Senyum manis anak penjual mie godog (bagian 2)

 



"Mas Bagas, aku boleh main ke peternakan ayam kampungmu tidak?" tanya Wulan kepadaku. "Boleh sekali Wulan, aku sangat senang kamu mau main ke peternakannku" jawabku. "Wah, pucuk dicinta ulam tiba" batinku. "Tapi kamu ijin dulu ya sama orangtuamu, soalnya aku nggak enak, nanti dikira mau macam-macam sama kamu" kataku lagi. "oke mudah itu, nanti aku ijin pada bapak" jawab Wulan. "Tapi ini sudah sore, mainnya besok saja ya, nanti aku samperin kamu" kataku lagi. "Iya mas, gimana baiknya saja" jawab Wulan.

Paginya ku benar-benar nyamperin lastri ke warung. Kebetulan disitu ada bu Darsih dan Wulan yang sedang bersih-bersih. "Sebentar ya mas bagas, aku mau beres-beres sebentar" kata Wulan. "Iya" jawabku. "Mau kemana nak Bagas, kok pagi-pagi sudah nyamperin Wulan kesini?" tanya Bu Darsih. "Wulan katanya ingin main ke tempatku beternak ayam kampung bu, boleh kan? tanyaku. "Oh iya, tadi malam Wulan sudah cerita tapi saya lupa. Tapi tentu saja saya mengizinkan, titip Wulan ya nak Bagas" kata Bu darsih. "Iya bu" jawabku agak terkejut mendengar perkataan dari Bu Darsih, apakah ia memberi lampu hijau batinku.

Ketika aku sedang asik ngobrol dengan bu Darsih, ternyata Wulan masuk ke dalam warung dan sudah berganti pakaian. Ia nampak cantik sekali. Wulan sedikit merapikan rambutnya dan ada sedikit lipstik tipis dibibirnya yang membuatku terpana melihatnya. "Lihat apa mas, nanti kesambet lho" canda Wulan. "Ah, kamu bisa saja" jawabku segera sadar akan sikapku. "Bu, saya minta ijin main ke peternakan mas bagas ya?" kata Wulan. "Iya Nduk, hati-hati dijalan ya" kata Bu Darsih. "Mari bu" pamitku kepada Bu Darsih. "Iya nak Bagas, hati-hati ya, jaga Wulan baik-baik, soalnya ia jarang keluar rumah" kata Bu Darsih. "Siap Bu" jawabku mantap.

Bersambung

Posting Komentar

0 Komentar