Penjaga Perpus Baru Cantik Sekali

 



Aku adalah seorang mahasiswa semester akhir di kampus yang ternama di Jogja. Karena hampir semua mata kuliah sudah selesai dan tinggal menyelesaikan skripsi, aku menyempatkan main ke perpustakaan fakultas.Sebenarnya aku sering main kesitu namun akhir-akhir ini aku memang jarang ke perpustakaan. Ketika aku masuk ke perpustakaan betapa terkejutnya aku karena begitu masuk aku sudah disambut oleh bidadari. Dia sedang asyik bekerja melayani peminjaman buku. Rupanya dia adalah pegawai baru perpustakaan atau setidak-tidaknya mahasiswa yang sedang magang bekerja.

Mengetahui hal ini aku jadi bersemangat karenanya. Aku beranikan diri menyapanya. "Hei mbak, boleh kenalan, pegawai baru ya?" tanyaku. "bukan mas, aku mahasiswa jurusan kearsipan yang sedang kerja praktik" jawabnya. "Kalau boleh tahu, namamu siapa?" tanyaku lagi. "Namaku Winda, kalau Mas namanya siapa?" Winda bertanya balik. "Namaku sebenarnya Jono, tapi teman-temanku memanggilku bambang tampan" jawabku bercanda. "Ah, mas bisa saja, pasti mas bohong deh" katanya sambil tersenyum. "Iya deh, perkenalkan namaku Alex, mahasiswa terhitz disini" kataku.

"Ngomong-ngomong kamu nanti kerja sampai jam berapa?" tanyaku. "Emang ada apa, Mas Alex mau traktir aku makan ya?" tanyanya. "Hei, berani sekali kamu anak muda, baru kenal sudah ngajak makan saja, tapi hayuk" jawabku sambil bercanda. Winda tertawa. "aku selesai praktik jam 4 sore" kata Winda menjawab pertanyaanku. "Oke, sip, nanti jam 4 aku jemput kesini ya" kataku. "Eh, kamu naik apa berangkat kesini?" tanyaku. "Naik mobil" jawabnya ringan. "Naik mobil" seketika aku agak down. Aku kan cuma naik motor matik. Rupanya Winda mengetahui perubahan raut mukaku. "Naik Go Car mas, aku cuma bercanda" berkata Winda. "Ah, becandanya kelewatan, aku kan jadi down" kataku.

Akhirnya jam 4 sore tiba. Dengan bersemangat aku menuju ke perpustakaan fakultas. Ternyata Winda sudah menungguku. "Maaf, sudah lama menunggu ya" aku minta maaf. "Ah, kalau menunggu mahasiswa ganteng seperti mas, alex, masih worth it lah" jawabnya sambil sedikit bercanda. "Winda, sebelum kamu aku antar pulang ke kos, kita makan dulu yuk, aku sudah lapar nih" kataku. "Siap pak bos, tapi traktir ya" jawan Winda sedikit merayu. "Siap kalau itu mah, kebetulan aku baru dapat transferan" jawabku. "Wah, dapat transferan dari mana mas alex. mau donk aku di transfer" kata winda sedikit merajuk. "Kebetulan aku ada kerja freelance gitu, jangankan transfer, semua gajiku buat kamu deh, tapi kalau kamu sudah aku halalin ya" jawabku. "Aamiin" jawab Winda. "Waduh, aku bercanda dijawabnya serius, bisa jadian beneran ini" kata batinku.

Tawa kecil Winda mengudara di sepanjang jalan menuju warung makan sederhana di sudut Kota Jogja. Candaan sore itu menjadi pintu pembuka bagi hubungan kami yang kian erat. Hari-hari berikutnya, perpustakaan fakultas bukan lagi sekadar tempat mencari referensi skripsi, melainkan ruang hangat tempat kami saling bertukar impian.

Seiring berjalannya waktu, dedikasi kami berbuah manis. Alex berhasil menyelesaikan skripsinya tepat waktu sembari tekun mengembangkan bisnis freelance di bidang teknologi informasi yang sempat ia ceritakan. Berkat kerja keras, inovasi, dan kegigihannya, bisnis rintisan yang didirikannya berkembang pesat hingga menjadi perusahaan teknologi terkemuka. Hanya dalam waktu beberapa tahun, Alex sukses bertransformasi menjadi CEO muda bernilai miliaran rupiah. Kesuksesan ini membawa kebanggaan luar biasa bagi kedua orang tua Alex, Pak Herman dan Bu Suryani, yang selama ini tak pernah putus mendoakan perjuangan putranya dari kampung halaman.  

Sementara itu, Winda menyelesaikan studi kearsipannya dengan predikat sangat memuaskan. Kinerja luar biasanya sejak masa kerja praktik di perpustakaan membuat pihak instansi sangat terkesan. Keahlian serta inovasinya dalam memodernisasi sistem kearsipan digital diakui secara luas, hingga akhirnya Winda resmi diangkat menjadi pegawai tetap. Keberhasilan Winda membuat kedua orang tuanya, Pak Bambang dan Bu Utami, meneteskan air mata bahagia melihat putri kesayangan mereka kini memiliki karier yang stabil dan membanggakan.  

Di puncak pencapaian karier masing-masing, Alex tidak pernah melupakan janji dan ucapan gurauannya di perpustakaan hari itu. Dengan penuh keyakinan dan rasa syukur, Alex memboyong Pak Herman dan Bu Suryani untuk bersilaturahmi ke rumah Pak Bambang dan Bu Utami. Pertemuan keluarga besar tersebut berlangsung hangat dan penuh kebahagiaan. Restu penuh pun mengalir indah dari kedua belah pihak orang tua yang menyaksikan sendiri bagaimana keduanya berjuang dari nol.  Tak lama berselang, sebuah pesta pernikahan yang anggun dan meriah digelar. Berawal dari sapaan manis di meja pelayanan perpustakaan, Alex dan Winda kini resmi mengikat janji suci dan bersanding di pelaminan sebagai pasangan suami istri. Candaan masa lalu kini berubah menjadi kenyataan indah yang abadi.

Posting Komentar

0 Komentar