Anak CEO tersembunyi liburan ke Desa Kepuh di lereng Merapi


Desa Kepuh yang terletak tepat di lereng Gunung Merapi pagi itu mendadak heboh. Bukan karena erupsi atau kabar kemunculan macan tutul, melainkan karena kedatangan seorang pemuda bernama Excel. Pemuda itu turun dari bus angkutan desa yang knalpotnya mengepulkan asap hitam tebal, memanggul ransel kain kusam yang ritsletingnya sudah diganjal peniti, serta memakai kaus promosi toko bangunan terbitan tahun 2012.

Excel meyakini penuh bahwa dirinya hanyalah anak orang biasa. Ayahnya selalu mengaku sebagai "staf bagian arsiparis" di sebuah kantor swasta yang hidup dari uang pensiun pas-pasan. Tiap bulan Excel dikirimi uang jatah yang dipesan ayahnya agar "dihemat sampai rupiah terakhir." Excel tidak tahu bahwa ayahnya adalah CEO konglomerat multinasional pemilik belasan lini bisnis global yang sengaja menyembunyikan identitas kekayaannya demi melatih mental sang anak agar tidak manja.

Langkah kaki Excel yang dibalut sandal jepit swallow hitam berdencit menyusuri jalanan desa bernuansa sejuk itu. Nasib mempertemukannya dengan Dinda, putri Pak Lurah yang sedang menyiram bunga kembang sepatu di depan halaman rumah. Dinda memiliki paras ayu khas gadis desa, bermata binar dan tersenyum ramah. Saat mata mereka beradu, Excel merasa dadanya seperti dihantam erupsi kecil Merapi. Niat awal liburan hematnya seketika berubah menjadi misi mengejar cinta.

"Monggo, Mas. Mau cari alamat siapa?" sapa Dinda lembut.

Excel tersenyum canggung, hampir saja menumpahkan botol air mineralnya. "Anu, Mbak... saya mau liburan sambil sewa kamar murah di desa ini."

Sebelum Excel sempat melanjutkan perkataannya, Bu Danang, ibu kandung Dinda, keluar dari pintu depan membawa nampan berisi teh hangat dan pisang goreng. Begitu melihat Excel yang berdiri sopan, membungkukkan badan bertata krama, dan langsung mengucapkan salam dengan tulus, mata Bu Danang langsung berbinar. Sejak detik pertama, Bu Danang sudah merasa sreg dan menyukai kesederhanaan serta ketulusan pemuda itu.

"Oalah, alangkah sopannya anak muda ini! Ayo masuk dulu, Mas. Boleh menginap di paviliun samping rumah kami kok, tarifnya seikhlasnya saja," ujar Bu Danang sumringah, mengabaikan kode sikut dari suaminya yang baru saja muncul di ambang pintu.

Pria paruh baya berpeci hitam dan bermisai tebal itu adalah Pak Danang, Lurah Desa Kepuh. Pak Danang memandang Excel dari ujung rambut hingga ujung sandal jepit yang terikat isolasi hitam. Sebagai orang nomor satu di desa, Pak Danang memimpikan calon menantu bertubuh tegap, berseragam resmi, atau minimal anak pengusaha tambak gurame sukses. Melihat Excel yang terkesan sangat "merakyat dan cekak," mata Pak Danang langsung menyipit curiga.

"Nanti dulu, Bu! Jangan sembarangan terima tamu," potong Pak Danang tegas. "Di desa ini ada aturan ketat. Kamu pemuda dari mana, kerjamapa, dan apa modalmu berani-beraninya menatap anak saya lama-lama?"

Excel menjawab jujur dengan polosnya. "Saya Excel, Pak. Ayah saya cuma pensiunan penata berkas bekas. Saya ke sini naik bus hemat, cuma bawa baju tiga pasang dan niat silaturahmi."

Pak Danang makin tidak setuju. Dalam hatinya, pemuda ini sama sekali tidak masuk kriteria menantu idaman. Namun, Bu Danang menyenggol pinggang suaminya sambil berbisik galak, "Bapak jangan melihat orang dari kausnya! Mas Excel ini kelihatan berbudi pekerti luhur!"

Hari-hari berikutnya menjadi ajang ujian berat bagi Excel. Pak Danang berusaha keras membuat Excel menyerah dan pergi dari desa dengan memberinya serangkaian tugas berat yang terkesan mustahil. Excel disuruh membersihkan kandang sapi warga, memindahkan tumpukan batu kali Merapi, hingga mengejar kambing galak Pak Lurah yang lepas ke lereng tebing.

Uniknya, bukannya mengeluh, kegigihan Excel justru luar biasa. Tanpa tahu bahwa di kota ayahnya mengendalikan ribuan karyawan, Excel dengan semangat membara menyikat kandang sapi sampai mengkilap, memikul batu kali sambil bersiul gembira, dan berhasil menangkap kambing galak itu dengan trik bujukan halus. Semua itu dilakukan Excel demi bisa menyapa Dinda setiap sore dan menikmati cangkir teh buatan Bu Danang.

Dinda makin terpesona melihat kerja keras dan kerendahan hati Excel. Sementara Bu Danang makin gencar membela Excel di depan suaminya. "Lihat itu, Pak! Mas Excel pantang menyerah. Anak zaman sekarang mana ada yang sekukuh dan sesabar dia?" ujar Bu Danang bangga. Pak Danang mulai agak goyah melihat keteguhan hati Excel, tetapi gengsi kepemimpinannya masih menahan rasa setujunya.

Puncak peristiwa terjadi pada hari kelima. Saat Pak Danang sedang menguji Excel memetik buah kelapa, mendadak terdengar deru mesin raksasa dari kejauhan. Bukan cuma satu, melainkan iring-iringan sepuluh mobil mewah hitam berkilat disusul satu helikopter pribadi yang mendarat darurat di lapangan bola desa.

Seluruh warga desa gempar. Pak Danang panik setengah mati memegang pecinya, mengira ada sidik pimpinan negara. Dari mobil paling depan, turunlah seorang pria berjas mahal dengan kaca mata hitam dikawal belasan pengawal berbadan tegap. Pria itu berjalan tergesa-gesa menghampiri Excel yang sedang sibuk memegang tali timba sumur.

"Excel! Akhirnya Ayah menemukanmu!" teriak pria itu.

Excel melongo. "Lho, Ayah? Kok ke sini naik mobil banyak banget? Bukannya uang pensiun Ayah cuma cukup buat beli beras?"

Pria itu terkekeh sambil menepuk pundak anaknya. "Ayah minta maaf, Nak. Sudah waktunya jujur. Ayah bukan arsiparis dokumen lawas di perusahaan swasta. Ayah ini CEO holding company terbesar di negeri ini. Ayah sengaja menyuruhmu hidup hemat dari kecil supaya kamu jadi pria yang tangguh dan tidak sombong."

Pria itu kemudian merogoh dompetnya dan mengeluarkan kartu kredit hitam berlapis emas yang tak terbatas limitnya, lalu menyodorkannya pada Excel. "Ini jatah jajanmu yang sebenarnya, Nak. Ayah lupa kasih waktu kamu berangkat liburan."

Seluruh warga desa terperanjat. Pak Danang berdiri mematung dengan mulut terbuka lebar, sampai-sampai rokok kretek yang dipegangnya jatuh ke tanah. Matanya mengerjap-ngerjap menatap helikopter dan deretan mobil mewah di hadapannya, lalu beralih menatap pemuda bertopi lusuh di depannya.

Rasa kagum Pak Danang langsung membumbung tinggi. Bukan semata-mata karena silau oleh kekayaan fantastis keluarga Excel, melainkan gabungan rasa takjub yang mendalam: pemuda di hadapannya ini adalah anak tunggal konglomerat ternama, namun selama lima hari berturut-turut rela kotor terkena lumpur, memikul batu, dan membersihkan kandang sapi tanpa sekali pun memamerkan kekayaannya demi mendapatkan restu untuk Dinda.

Pak Danang segera maju, merapikan letak pecinya, lalu menggenggam erat tangan Excel dengan wajah penuh senyum manis. "Mas Excel... ternyata Mas Excel ini sosok pemuda langka yang sangat berdedikasi dan penuh kegigihan! Sejak awal sebenarnya saya sudah melihat aura calon menantu idaman di dalam diri Mas Excel!"

Bu Danang yang berdiri di sampingnya langsung menepuk bahu Pak Danang sambil tertawa renyah. "Ah, Bapak ini! Kemarin-kemarin bilang Mas Excel cuma modal sandal jepit isolasian. Kan Ibu sudah bilang dari awal, Mas Excel ini pilihan yang paling sempurna!"

Dinda tersenyum malu-malu di samping ibunya, sementara Excel hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, masih kebingungan memproses fakta bahwa ayahnya adalah seorang CEO kaya raya. Akhirnya, dengan penuh rasa gembira dan tawa hangat yang menggema di lereng Merapi, Pak Danang dengan tulus merestui hubungan Excel dan Dinda.

Posting Komentar

0 Komentar