Tantangan pendekar Andalas (Cerita Silat Harimau Merapi Jilid 13)

 


Setelah semuanya aman terkendali, Ki Satya beserta seluruh warga padepokan lereng merapi berpamitan kepada Ki Paramudya dan Nini Darminah. Mereka segera kembali ke padepokan lereng merapi. "Ngger Adinata, kamu apakah mau tinggal disini atau langsung ikut kami ke padepokan?" tanya Ki Satya. "Ananda ingin bermalam dulu beberapa hari disini, rasa kangenku pada bopo dan biyung belum terobati" jawab Adinata dengan sopan dan hormat. "Tidak apa-apa kalau begitu, jaga diri kalian baik-baik" balas Ki Satya. "Ki, saya mewakili seluruh warga padepokan lereng merapi sekali lagi mohon pamit, terimakasih sekali selama ini sudah bersedia menampung kami, mohon maaf jika selama ini kami ada kesalahan baik tutur kata ataupun perbuatan baik yang disengaja ataupun tidak" pamit Ki Satya. "Sama-sama guru, kami seluruh warga padukuhan sambi sangat senang menyambut kalian, semoga lain kali kita dapat berjumpa lagi dalam keadaan yang lebih baik, kami juga mohon maaf jika dalam kami menerima warga padepokan lereng merapi jauh dari kata sempurna" balas Ki Paramudya. Tidak berapa lama kemudian warga padepokan lereng merapi segera berbondong-bondong kembali menuju lereng merapi.

Setelah melepas kepergian Ki Satya, Ki Paramudya berkata kepada Adinata. "Nak, kami ingin kamu menjelaskan dengan gamblang, kenapa sekarang kamu membawa dua gadis cantik ini bersamamu" tanya Ki Paramudya. Adinata menarik napas yang dalam. Kemudian setelah ia menata hatinya ia menjelaskan secara terperinci awal perkenalannya dengan Ambarwati dan Maheswari hingga mereka berdua menjadi calon istrinya. "Oh, begitu ceritanya, bopo dan biyungmu bisa menerima penjelasanmu" berkata Ki Paramudya.

Tiba-tiba ia langsung bertanya kepada Ambarwati. "Nak, dalam waktu dekat kami akan menemui kedua orangtuamu untuk melamarmu secara resmi, apakah kamu tidak berkeberatan dan sudah mantap dengan putra kami?" tanya Ki Paramudya meyakinkan. "Saya tidak berkeberatan Bopo, justru kami sekeluarga akan menyambutnya dengan riang gembira" jawab Ambarwati. "Baguslah kalau begitu" jawab Ki Paramudya.

"Nak Maheswari, kamu tidak keberatan kan, kami melamar nimas Ambarwati terlebih dahulu?" tanya Ki Paramudya kepada Maheswari. "Saya tidak berkeberatan Bopo, justru saya sangat gembira dan bahagia, Mbakyu Ambarwati akan segera bersatu dengan kakang Adinata di pelaminan" jawab Maheswari dengan mimik muka gembira. Sama sekali tidak ada raut kesedihan diwajahnya. "Baguslah kalau begitu, kami akan segera mencari waktu yang baik untuk melamar ke Hargowilis" kata Ki Paramudya. "Sekarang kalian semua beristirahatlah" kata Ki Paramudya. "Terimakasih Bopo" ketiganya menyahut dengan serentak.

"Kakang, kita jalan-jalan yuk, sekalian makan siang, aku dengar kabar ada warung nasi yang sangat enak di daerah pasar Turi" ajak Ambarwati. "Baiklah Nimas, aku juga ingin jalan-jalan menghirup udara segar. "Aku tidak diajak ya, sudahlah, kakang memang tidak pernah peduli sama aku" kata Maheswari ngambek dan sedikit merajuk. "Ayok Nimas, kamu aku ajak kok, ikutlah bersama kami, kamu kan sudah aku sayangi seperti adiku sendiri" ajak Ambarwati menenangkan Maheswari. "Wek, aku diajak , terimakasih mbakyu" ucap Maheswari seraya sedikit meledek Adinata. Adinatapun hanya tersenyum melihat tingkah Maheswari. Ki Paramudya dan Nini Darminah yang melihatnyapun ikut geleng-geleng kepala. "Den Ayu, saya dan paman Gembul boleh ikut ya" pinta Nyi Lastri. "Boleh Mbok, jalan-jalan bersama lebih menyenangkan daripada sendirian" jawab Ambarwati.

Pasar Turi jaraknya tidak terlalu jauh dari dusun Sambi. Jika berjalan kaki dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam perjalanan. Dikiri kanan jalan banyak petani yang menanam pohon Salak. Daerah Turi memang sangat terkenal dengan buah salaknya yang sangat manis. Sepanjang perjalanan mereka berlima bersenda gurau. Apalagi paman Gembul memang pintar melucu. Disepanjang perjalalan Ia terus melawak tiada henti. Adinata, Ambarwati, Maheswari dan Nyi Lastri terus tertawa tiada henti. "Sudah jangan melawak lagi, perutku sudah terasa sakit karena tertawa terpingkal-pingkal" kata Maheswari menghentikan lawakan paman gembul. "Iya nih, Kakang Gembul bikin sakit perut saja" ujiar Nyi Lastri menimpali.

Dalam perjalanan mereka berpapasan dengan satu rombongan yang berpakaian berbeda dengan orang kebanyakan di Mataram. Mereka tampak seperti pendekar dunia persilatan dari pulau lain. Adinatapun mengernyitkan dahi seolah-olah berpikir keras. "Apa yang sedang kamu pikirkan kakang?" tanya Ambarwati. "Saya sedang berpikir mereka siapa Nimas, dan ada urusan apa datang ke daerah Merapi sini, kakang khawatir mereka akan berbuat onar" jawab Adinata. "Kalau tidak salah, itu pakaian ciri khas pulau Andalas kakang, saya pernah di beritahu sama Bopo" Terang Ambarwati. "Oh, begitu ya, semoga mereka tidak membuat masalah disini" jawab Adinata.

Tidak berapa lama kemudian sampailah mereka berempat di Pasar Turi. Mereka langsung menuju ke sudut pasar. Disana terdapat warung nasi yang sudah sangat terkenal di daerah tersebut. Meskipun hanya olahan ndeso, tapi warung nasi ini malah ngangeni. "Kita duduk dipojok situ Kakang, tempatnya longgar dan kebetulan kosong" ajak Ambarwati. "Baiklah Nimas, mari Nimas Maheswari, paman gembul dan nyi lastri, kita duduk di pojokan sana" ajak Adinata.. "Paman Gembul, silahkan pesan semua yang kamu suka, mbok lastri juga jangan malu-malu, silahkan pesan yang disukai, jangan takut, ini semua ditraktir sama Kakang Adinata" kata Ambarwati menawarkan. "Nimas Maheswari, pesanlah apa yang kamu suka, mungkin masakan disini agak berbeda dengan tempatmu di pantai sana" kata Ambarwati menawarkan dengan ramah. "Terimakasih mbakyu, pasti aku akan pesan, sepertinya ada beberapa menu yang bikin aku penasaran karena tidak ada di daerah asalku" jawab Maheswari.

Tidak berapa lama kemudian datang seorang yang ibu-ibu masih muda dan ayu mendekati meja mereka. "Mau pesan apa den ayu?" tanya mbok Gandes pemilik warung. "Disini ada menu apa saja mbakyu?" tanya Ambarwati dengan ramah. "Disini yang paling laris nasi sayur lodeh dengan ikan asin, tapi ada juga menu lainnya pepes ikan gurami, sego gudangan, sayur nangka, ayam goreng dan ayam bakar dengan sambel terasi. "Wah lengkap sekali, kami pesan semuanya, kebetulan kami sangat lapar, untuk minumnya kami pesan teh anget sama wedang jahe" kata Ambarwati. "Asyik, Den Ayu memang paling memahamiku" kata paman gembul riang. "Memangnya aku tidak memahamimu" kata Nyi Lastri pura-pura ngambek. "Ha ha ha tentu tidak sayang, kamu tentu saja yang paling mengerti aku" kata paman gembul menghibur istrinya. Adinata, ambarwati dan maheswaripun tertawa sambil geleng-geleng kepala.

Tidak berapa lama kemudian hidangan telah tersedia di atas meja. Adinata dan rombongan segera menikmati hidangan dengan lahapnya sambil sedikit bersenda gurau. "Nimas Maheswari, makanlah yang banyak, kenapa malah melamun?" tanya Ambarwati kepada Maheswari. "Iya Nimas, kenapa kamu jadi sedih, apa ada yang kamu pikirkan" tanya Adinata turut heran dengan perilaku maheswari. " Tidak apa-apa kakang, mbakyu, aku cuma sedikit teringat keluargaku di rumah, kami sering makan bersama-sama sambil bersenda gurau mereka pasti kangen sama aku" jawab Maheswari. "Oh, begitu ya, kamu kan baru pertama kali ini pergi dari rumah, jangan khawatir pasti suatu saat nanti kamu ketemu orang tuamu, Kakang Adinata pasti minta doa restu keorangtuamu untuk menikahimu" kata Ambarwati menenangkan. "Ah, itu kan masih lama" kata maheswari sambil tersipu malu. "Semoga saja bisa cepat, nanti setelah kakang Adinata menikahiku aku akan segera memintanya untuk menikahimu juga" bisik Ambarwati ke Maheswari. "Terimakasih mbakyu" jawab Maheswari tenang. "Kalian sedang membicarakan apa sih, aku jadi penasaran?" tanya Adinata. "Maaf kakang, ini pembicaraan emak-emak" jawab Ambarwati. "Ya, sudah aku makan saja. Mari paman gembul dihabiskan saja, mubadzir kalau tidak habis" kata Adinata. "Beres Den Nata, semuanya pasti saya sikat" jawab paman gembul bersemangat.

"Kang ardi kamu besok mau menonton pertandingan di bukit Klangon tidak?" kata seorang pria yang juga tamu di warung makan mbok gandes. "Memangnya di bukit klangon akan ada pertarungan apa adi tejo" tanya kawannya. "Tadi kan beberapa pendekar dari Andalas bilang mau menantang murid padepokan lereng merapi yang berjuluk harimau muda, mereka sangat penasaran dengan kehebatannya dan ingin mengajak lawan tanding" jawab Tejo. "Terus terang aku sangat tertarik, aku pasti akan berusaha untuk tidak melewatkannya, kapan waktunya?" tanya Ardi. "Sekarang belum ada kepastian, kita tunggu saja, nanti pasti ada kabar, soalnya mereka bilang pertarungannya ingin disaksikan banyak orang" jawab Tejo.

Adinata yang mendengar perbincangan dua orang penduduk desa yang sedang makan di warung mbok gandes terkejut. "Maaf kisanak, saya tadi mendengar bahwa kalian membicarakan tentang pertarungan di bukit klangon, bisakah saya diterangkan yang sejelas-jelasnya?" tanya Adinata dengan sopan. "Oh, begini Den, tadi sebelum aden dan rombongan kesini sebelumnya ada rombongan pendekar yang mengaku dari pulau Andalas ingin mengajak bertarung dengan pendekar dari lereng merapi yang berjuluk Harimau Muda" kata Tejo menjelaskan. "Apakah mereka memperkenalkan nama atau julukannya kisanak?" tanya Adinata lagi. "Iya Den, mereka juga menamakan dirinya pendekar harimau dari gunung Kerinci" jawab Tejo lagi. "Terimakasih penjelasannya kisanak" kata Adinata meskipun sebenarnya ia belum puas dengan informasi yang didapatkan. "Sama-sama" jawab Ardi dan Tejo hampir berbarengan.

"Bagaimana ini kakang, ada yang mau mengajakmu bertarung itu, padahal kita tidak tahu ilmu mereka sampai tingkatan mana, apakah biasa-biasa saja ataukah sangat tangguh sehingga sulit untuk dikalahkan" kata Ambarwati khawatir. "Iya Kakang, aku juga khawatir, kalau terjadi apa-apa bagaimana?" kata Maheswari turut gelisah. "Tenangkanlah hati nimas berdua, kita tidak usah grusah-grusuh untuk menanggapinya, mari kita secepatnya kembali kepadepokan lereng merapi untuk bertukar pikiran dengan guru membahas masalah ini" kata Adinata menenangkan kedua calon istrinya. Ambarwati dan Maheswari hanya mengangguk. Mereka jadi tidak berselera makan.

"Paman Gembul, sisa makanannya dibungkus saja ya, kita harus segera kembali ke padepokan lereng merapi" kata Ambarwati kepada paman gembul. "Iya den ayu" jawab paman gembul. Ia paham dengan situasi yang sedang terjadi. Paman gembul dan istrinya segera bergegas menemui mbok gandes untuk meminta makanan yang sudah terlanjur dipesan untuk dibungkus saja. Mbok Gandes sedikit terheran-heran dengan perilaku tamunya namun ia tidak bertanya apa-apa. Dengan cekatan ia segera membungkus makanan yang masih tersisa di atas meja.

Tiba-tiba ada orangtua yang menghampiri Adinata. "Den, bukankah kamu Adinata putra dari Ki Paramudya yang berjuluk Harimau Muda dari Merapi?" tanya orang tua tersebut yang bernama Mbah Atmo. "Iya kek, tapi saya heran kenapa kakek mengenal saya, mohon maaf jika saya tidak mengenal kakek" jawab Adinata dengan sopan dan ramah. "Tidak apa-apa Den, perkenalkan saya mbah Atmo, sahabat ayahmu, waktu kecil bahkan saya sering mengendongmu" jawab Mbah Atmo. "Aduh, sekali lagi maaf ya mbah, saya jadi merasa bersalah sudah" kata Adinata menyesal. "Tidak masalah Den, saya dengar kamu ditantang bertarung sama pendekar dari Andalas ya, kakek yakin kamu pasti menang" kata mbah Atmo. "Terimakasih mbah, mohon doanya saja" jawab Adinata. "Hidup Harimau Muda; Hidup Padepokan Merapi, Hidup Ksatria Mataram" teriak penduduk desa yang sedang sarapan diwarung mbok gandes. "Terimakasih saudaraku semua, doa kalian tentunya akan menjadi kekuatan bagiku untuk menghadapi ujian ini" kata Adinata terharu dan merasa tersanjung atas dukungan penduduk desa.

Tidak berapa lama kemudian, Adinata, Ambarwati, Maheswari, paman gembul dan nyi lastri segera bergegas menuju padepokan lereng merapi. Mereka khawatir dengan adanya kabar kedatangan para pendekar dari Andalas. Mereka berlima bergegas menuju ke padepokan tanpa berkata apa-apa di jalan. Disisi lain di padepokan lereng merapi, Ki Satya sedang duduk beristirahat sembari mengawasi murid-muridnya berlatih silat di bawah bimbingan Bhadrika, Nismara, Wilalung dan Indraswari. Tiba-tiba Ki Satya dan murid-murid padepokan dikejutkan dengan rombongan pendekar yang berpakaian asing bagi mereka.

Ki Satya beserta ke empat muridnya bergegas memberi sambutan. "Wahai kisanak, siapakah gerangan kalian sudi datang kemari?" tanya Ki Satya dengan sopan. Seorang pendekar yang usianya sudah setengah baya segera turun dari kudanya diikuti seluruh anak buahnya. "Perkenalkan tuan, namaku Datuk Rajo Awan, dan ini murid utama calon penerusku, Dubalang Mudo, kami datang dari pulau Andalas" jawab pemimpin rombongan tersebut yang ternyata adalah pemimpin perguruan silat Harimau Kerinci.

"Perkenalkan juga nama saya Ki Satya, pemimpin padepokan lereng merapi. Ada apakah gerangan anda beserta rombongan jauh-jauh datang dari pulau andalas?" tanya Ki Satya keheranan. "Sejujurnya kami penasaran sekali ingin menjajal ilmu dari Adinata, yang terkenal dengan julukan harimau muda dari Merapi, terus terang kami ingin merasakan kehebatannya" jawab Datuk Rajo Awan. "Oh, kalau untuk urusan itu saya belum bisa memberi keputusan, saya harus berembug dulu dengan murid saya, Adinata" jawab Ki Satya.

"Baiklah Ki Satya, kami mohon pamit dulu, saya akan menunggu kabar, sepekan kemudian saya akan kembali kesini lagi untuk menanyakan kejelasannya" kata Datuk Rajo Awan. "Terimakasih atas pengertiannya. Kalian kan dari perjalanan jauh, mampirlah untuk sekedar beristirahat" kata Ki Satya menawarkan diri.

"Terimakasih, anda baik sekali, tapi kami sudah memutuskan untuk beristirahat dan menginap di Girpasang, tidak jauh dari sini" jawab Datuk Rajo Awan. "Syukurlah kalau begitu" kata Ki Satya lega.

Perkampungan Girpasang sendiri berada di kawasan lereng Merapi dengan jarak sekitar 4 Km dari puncak gunung. Karena berada di daerah perbukitan, hal ini membuat Girpasang sering kali tertutup kabut terutama pada sore hari. Mayoritas rumah di Girpasang berlantai tanah, berdinding ayaman bambu serta genting dari tanah. Tampak kayu atau bambu, kebun bunga, sayuran serta kandang ternak di perkarangan rumah warga.

Tidak berapa lama kemudian sepeninggal rombongan dari Andalas, Adinata beserta ambarwati dan maheswari dengan diikuti dua abdi kinasihnya paman gembul dan nyi lastri. Adinata segera bergegas menemui Ki Satya di pendopo padepokan sedangkan yang lain masuk ke dalam padepokan untuk membantu Nini Satya memasak di dapur. Kebetulan selain Ki Satya, ada empat adik seperguruan Adinata yang lain yaitu Bhadrika, Nismara, Wilalung dan Indraswari. "Ngger Adinata, ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepadamu, hari ini datang rombongan pendekar dari Andalas ingin menantangmu bertarung" berkata Ki Satya. "Iya guru, tadi saya sudah mendengar ceritanya di warung nasi di daerah Turi" jawab Adinata. "Syukurlah kalau kamu sudah tahu, sebenarnya selain hal itu ada lagi hal yang lebih penting yang ingin aku sampaikan kepada Ngger Adinata dan yang lain" kata Ki Satya lagi.

"Ada apakah guru, kami jadi khawatir?" tanya Adinata mewakili adik seperguruannya. "Ngger Adinata, Saya rasa sudah tiba waktunya kamu meneruskan menjadi pemimpin padepokan lereng merapi ini, usiaku sudah semakin tua, sudah saatnya yang tua ini memberi kesempatan yang lebih muda, bagaimana Bhadrika, Nismara, Wilalung dan Indraswari, apakah kalian setuju dengan pendapatku?" tanya Ki Satya kepada adik seperguruan Adinata. "Kami sangat setuju, apalagi kakang adinata berilmu tinggi dan bijaksana, dia sangat pantas menjadi pemimpin padepokan" jawab Bhadrika mewakili adik-adik seperguruannya yang lain.

"Bagaimana Adinata, apakah kamu bersedia meneruskan menjadi pemimpin padepokan lereng merapi ini?" tanya Ki Satya. "Baiklah guru, kalau semua setuju saya bersedia, dan saya sanggup untuk menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya" jawab Adinata mantap. :"Bagus sekali ngger" kata Ki Satya sambil menepuk-nepuk punggung adinata dengan bangga. "Tapi ada satu permintaanku guru?" kata Adinata. "Apakah itu nak, jika bukan permintaan yang sulit pasti akan aku kabulkan" kata Ki Satya. "Guru tetap harus membimbing kami dan menjadi kakek guru bagi murid-murid padepokan lereng merapi" kata Adinata. "Baiklah Ngger Adinata, aku sanggup jadi kakek guru bagi kalian" jawab Ki Satya mantap.

"Oh ya kakek guru, bolehkah nama perguruan lereng merapi ini aku rubah jadi perguruan harimau merapi?" tanya Adinata. "Boleh sekali, kamu kan sekarang sudah menjadi pemimpin padepokan jadi kamu berhak mengganti nama sepanjang itu memang menjadi ciri khas perguruan kita" balas Ki Satya. "Terimakasih kakek guru" kata Adinata senang. "dua pekan dari sekarang kita buat acara yang meriah untuk merayakan pengangkatanmu menjadi pemimpin perguruan harimau merapi, kita undang beberapa tokoh dunia persilatan yang ada di wilayah Mataram" kata Ki Satya yang kini menjadi kakek guru. "Baiklah, saya mewakili saudara seperguruan yang lain setuju dengan pendapat kakek guru" berkata Adinata dengan tegas dan mantap.

Di hari berikutnya undangan segera disebar. Beberapa tokoh dunia persilatan diundang untuk menghadiri pengukuhan Adinata sebagai pemimpin perguruan silat harimau merapi. Ki Adanu pemimpin perguruan silat Tebing Breksi yang juga guru dari Ambarwati, Ki Gede Aryaguna yang juga merupakan orangtua dari Ambarwati, Ki Bangor dari Pantai Watukodok yang juga orangtua dari maheswari, Kakek darma dan nini wilis dari gunung api purba nglanggeran, Tumenggung Sadawira dan Senopati Puspanidra dari kerajaan Mataram, dan masih banyak lagi undangan yang lain.

Ambarwati dan Maheswari gembira sekali orangtuanya akan ikut datang menghadiri pengukuhan Adinata sebagai pemimpin perguruan silat harimau merapi. Mereka sudah sangat kangen sekali dengan kedua orangtua masing-masing. Ambarwati dan Maheswari juga sangat bangga dengan calon suaminya yang meskipun masih muda, sudah banyak menguasai ilmu silat tingkat tinggi dan menjadi pemimpin perguruan.

Sore harinya, datanglah Datuk Rajo Awan dan Dubalang Mudo beserta para pengikutnya dengan naik kuda. Ki Satya dan Adinata menyambutnya di depan padepokan. Datuk Rajo Awan dan dubalang mudo beserta pengikutnya segera bergegas turun dari kuda. "Selamat datang tuan, ada apakah gerangan tuan sudi kemari?" tanya Ki Satya.

"Langsung saja kisanak, kami mau menanyakan kepastian tentang adu kesaktian antara perguruan kami Harimau Kerinci melawan Adinata yang berjuluk harimau muda dari Merapi" jawab Datuk Rajo Awan singkat dan lugas. "Baiklah tuan, kalau masalah itu biarlah Annger Adinata yang menjawabnya, ia sekarang menjadi pemimpin perguruan silat harimau merapi meneruskan kepemimpinanku" jawab Ki Satya. "Bagaimana jawabanmu Ngger Adinata" tanya Ki Satya.

"Baiklah kakek guru akan saya jawab tantangan dari perguruan silat harimau kerinci" jawab Adinata. "Bagaimana kepastiannya anak muda, apakah kamu sanggup adu kesaktian dengan kami atau kamu menyerah saja dan mengakui kekalahan?" tanya datuk rajo awan sedikit meremehkan kemampuan Adinata. "Baiklah tuan, saya selaku pemimpin perguruan silat harimau merapi dengan doa restu dari kakek guru menyanggupi untuk menerima tantangan dari perguruan silat harimau kerinci" jawab Adinata mantap.

"Bagus sekali anak muda, terus kapan pertandingan akan dilaksanakan?" tanya datuk rajo awan tidak sabar. "Pertandingan akan dilaksanakan pada saat malam bulan purnama kira-kira empat pekan dari sekarang di puncak bukit klangon" kata Adinata. "Baiklah kami setuju dan kami mohon pamit untuk mempersiapkan diri" jawab datuk rajo awan. "Kenapa terburu-buru tuan, mampirlah dulu istirahat di pendopo padepokan" kata ki satya menawarkan diri. "Terimakasih kisanak, tapi maafkan, kami sudah ada janji untuk bertemu kawan lama di bumi mataram ini" jawan datuk rajo awan. 'Baiklah kalau begitu, selamat jalan, kita ketemu lagi di puncak bukit klangon pada malam bulan purnama". Datuk rajo awan hanya mengangguk dan bergegas menaiki kuda untuk kembali ke penginapan di dusun girpasang.

"Apa langkahmu selanjutnya angger Adinata?" tanya Ki Satya. "Saya akan ke hutan merapi untuk berlatih kakek guru" jawab Adinata. "Baguslah kalau begitu, tolong sampaikan salamku untuk Eyang Jagratara jika kamu bertemu dengan beliau" berkata lagi Ki Satya. "Tentu salam kakek guru akan ananda sampaikan" jawab Adinata dengan sopan. "Terus bagaimana dengan adik-adik seperguruanmu, apakah mereka tidak dipersiapkan menghadapi pertarungan?" tanya Ki Satya lagi. "Saya sudah memikirkannya kakek guru, mereka akan diajari jurus getar bumi oleh Nimas Ambarwati, kebetulan ia sudah hampir menguasai dengan sempurna jurus tersebut" jawab Adinata lagi. "Baguslah kalau begitu angger Adinata, saya percaya kepadamu, tentunya keputusanmu sudah kamu pikirkan masak-masak" kata Ki Satya bangga dengan muridnya tersebut. "Terimakasih guru, kepercayaan dan amanah guru akan aku laksanakan sebaik-baiknya" kata Adinata dengan jelas dan tegas.

Keesokan harinya Adinata segera menuju ke hutan di lereng merapi. Ketika sampai di tepi hutan, nampak Si Loreng dengan pasangannya dan sepasang anak harimau. Si Loreng sangat gembira melihat Adinata datang. Ia segera mendekat kepada Adinata sambil mengibaskan ekornya. Pasangan si Loreng dan anak-anaknya mengikuti si Loreng. Mereka bermain-main dengan riang gembira setelah sekian lama tidak bertemu.

Ketika Adinata sedang bermain-main dengan si loreng tiba-tiba datanglah seorang kakek-kakek yang tidak lain adalah eyang jagratara. "Eyang kok tumben langsung datang menemuiku di tepi hutan?" tanya Adinata keheranan. Biasanya ia yang masuk kedalam hutan dipandu oleh si loreng. "Iya nak, saya sengaja menemuimu lebih cepat karena ada yang ingin aku sampaikan" jawab eyang jagratara. "Ada apa eyang, apakah ada kaitannya dengan tantangan dari pendekar Andalas?" tanya Adinata lagi penasaran.

"Benar sekali cucuku, ketahuilah, dulu aku pernah bertarung dengan guru dari Datuk Rajo Awan, dan ketika itu kami tidak dapat saling mengalahkan, ilmu dari guru datuk rajo awan tinggi sekali, kakek kesulitan mengalahkannya" terang eyang Jagratara. "Hmm, kalau begitu kemungkinan besar Datuk Rajo awan mempunyai ilmu yang hampir sama dengan gurunya dan bukan tidak mungkin jauh lebih hebat" gumam Adinata. "Benar sekali cucuku, maka kamu harus berlatih lebih keras untuk mengalahkannya" saran Eyang Jagratara. "Baiklah eyang, semua nasihat eyang akan aku laksanakan" jawab Adinata dengan hormat.

Bersambung


Posting Komentar

0 Komentar