Erlin, kamu memang idaman (Bagian 1 sampai tamat)

Hari ini jam satu siang. Saya ada kuliah bahasa indonesia. Pada mata kuliah ini yang mengambil lebih dari satu angkatan. Kebetulan dosen belum datang. Saya duduk di kursi belakang. "Mas Dwi, boleh saya duduk disini" sapa Erlin tiba-tiba. Saya agak terkaget dengan kehadirannya. Kebetulan saya sedikit melamun. "Oh, ya silahkan" jawab saya mengiyakan. Erlin adalah adik kelas angkatan saya. Orangnya cantik dan memakai hijab. Pokoknya kelihatan anggun sekali.

"Erlin boleh nggak aku pinjam buku catatanmu, soalnya aku ketinggalan banyak nih, sudah beberapa kali tidak berangkat kuliah, kebetulan kemarin aku sedikit demam" pintaku padanya. "Boleh mas, nanti ya, habis kuliah" jawab Erlin. "Terimakasih ya" jawabku dengan tersenyum.

"Lin, boleh nggak kalau aku main ke tempat kostmu" tanyaku pada Erlin. "Boleh saja mas, tapi di rumah tidak ada mainan lho" jawabnya bercanda. "Ah, kamu bisa saja" jawabku senang. Akhirnya pada hari Minggu sore saya bermain ketempatnya, rumah kostnya sederhana namun tempatnya bersih. "Assalamualaikum" sapaku. "Walaikumsalam, eh mas Dwi, mari silahkan duduk" jawab Erlin sambil mempersilahkan aku duduk. Kebetulan di depan rumah kost ada kursi dan meja untuk tamu. "Terimakasih jawabku".

"Ada apa mas, tumben main kesini" tanya Erlin padaku. "oh, ya, ini saya ingin mengembalikan buku yang kemarin saya pinjam, sekalian mau main sih" jawabku. "Oke, buku sudah aku terima ya, terus mau apa lagi" tanyanya. "mau ngobrol denganmu, boleh?" tanyaku. "Boleh saja kakak' jawabnya dengan tersenyum manis.

"Sejak pertama melihatmu, sebenarnya aku sudah tertarik lho sama kamu" kataku. "Ah, yang bohong" jawabnya bercanda. "Beneran, suer deh" jawabku. "Kamu itu nampak cantik anggun, sholikhah, pokoknya the best lah buatku" lanjutku merayunya. "Ah, jadi mau" jawabnya masih sambil terus bercanda. "Kamu mau enggak jadi pacarku" tanyaku kepadanya. "Ah, nggak mau ah kalau cuma pacaran, banyak godaannya tahu" jawabnya agak ketus. "Lha, terus mau kamu gimana"tanyaku. "Mau aku, kita sahabatan dulu, sambil mengenal satu sama lain. Nanti kalau memang kamu sudah mantap dan punya rezeki yang mapan, pinanglah aku ke rumah kedua orangtuaku" katanya dengan seriur. "Asiap bosku" jawabku sedikit bercanda. Dalam hati, aku berharap, semoga kelak benar dia jadi jodohku.

Selesai


Posting Komentar

0 Komentar